Hasil Survei Sosial dan Ekonomi Buruh Perempuan di Tiga Zona Industri Subang (Bag. 3)

Pola Asuh Anak Buruh Perempuan

Bagi responden yang telah menikah dan memiliki anak, tentu saja tidak hanya menanggung beban untuk membantu pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga, melainkan juga memiliki tanggung jawab dalam pengasuhan anak. Padahal, waktu kerja buruh perempuan biasanya cukup panjang, lalu bagaimanakah mereka mengasuh anak-anaknya? Survei ini menunjukkan bahwa mayoritas responden buruh perempuan menitipkan pengasuhan anaknya kepada orang tua (57,82%) dan mertua (17,54 %). Hanya 8,53 % responden yang mengaku masih mengasuh sendiri anaknya.

Hal ini menarik untuk dikaji lebih dalam, bahwa dengan terjunnya perempuan ke pabrik-pabrik untuk bekerja, di satu sisi menambah pendapatan rumah tangga mereka, namun di sisi lain justru anak-anak yang menjadi “korban” karena tidak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan di dalam keluarga yang tidak optimal. Mungkin asumsi diasuh oleh nenek/kakek adalah hal yang wajar dan lebih aman bagi anak ada benarnya dibandingkan dengan diasuh oleh orang lain. Namun perlu diingat bahwa dalam pengasuhan anak, terutama dalam masa-masa pertumbuhan emasnya (golden age) kasih sayang dari orang tua sangat dibutuhkan. Pada usia tersebut, anak menyerap banyak hal dari lingkungannya dengan sangat cepat. Pengawasan selain dari orang tua nampaknya cenderung lebih longgar dibandingkan dengan pengawasan oleh orang tua sendiri. Belum termasuk dari aspek kesehatan, nutrisi yang diperoleh, Air Susu Ibu (ASI), pergaulan sosial dan lain sebagainya. Kondisi ini tentu saja tidak bisa dianggap “biasa-biasa” saja, sebab menyangkut investasi sosial jangka panjang, yaitu pendidikan karakter anak. Bagaimana mungkin tercipta suatu generasi yang sehat, cerdas dan unggul tanpa peran ayah dan Ibu di dalamnya?

 

survey trpip 1

 

Motivasi Bekerja Buruh Perempuan

Survei TRPIP menunjukkan bahwa motivasi perempuan terjun ke dalam dunia industri dengan menjadi buruh ternyata selaras dengan data sebelumnya, yaitu terkait dengan status pernikahan dimana sebagain besar buruh telah berkeluarga (63%) dan juga mendukung argumen bahwa saat ini buruh perempuan dituntut untuk mampu membantu suami memenuhi nafkah ekonomi rumah tangga yang disebabkan oleh pendapatan suami yang masih dianggap belum mencukupi. Terbukti 52% responden menjawab bahwa motivasinya ikut bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, 34% karena ingin memiliki penghasilan sendiri dan 12% lainnya karena tidak ingin menjadi beban ekonomi bagi orang lain. Dalam hal tujuan memenuhi kebutuhan rumah tangga ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan telah memaksa perempuan yang semula berada di area domestik harus keluar ke area publik demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

survey trpip 3

Selain motivasi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di atas, catatan menarik dari proses seorang buruh perempuan masuk bekerja di pabrik adalah bahwa banyak diantaranya yang menggunakan jasa perantara untuk diterima menjadi buruh. Meskipun mayoritas mengaku mendaftar “sendiri” (58%), namun muncul juga pengakuan bahwa 31% responden masuk melalui jasa karang taruna, 5% melalui jasa calo dan 2% melalui orang dalam atau HRD.

Selanjutnya >> Bagian 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *