Hasil Survei Sosial dan Ekonomi Buruh Perempuan di Tiga Zona Industri Subang (Bag. 4)

Keleluasaan Beribadah

Penelitian ini juga mencoba memotret situasi di dalam pabrik. Salah satunya adalah terkait hak mendasar seorang buruh sebagai manusia yang beragama, yaitu keleluasaan menjalankan ibadah. Dua faktor utama yang dilihat adalah ketersediaan fasilitas ibadah, seperti mushola, dan keleluasaan waktu dalam menjalankan ibadah tersebut, terutama sholat wajib (dhuhur, ashar dan maghrib). Dari variabel pertama terkait kondisi fasilitas ibadah, 33 % responden menyatakan bahwa kondisi fasilitas ibadah di dalam pabrik kurang baik. Kurang baik disini bisa bermakna kurang luas, kurang memadai, kurang bersih, kurang dekat, kurang banyak dan bisa juga kurang representatif. Sebagain besar menyatakan fasilitas ibadah cukup baik (36%) dan haya 28% yang menyatakan fasilitas ibadah di pabrik baik.

Sementara itu, jika dilihat dari variabel waktu atau keleluasaan menjalankan ibadah, mayoritas responden menyatakan cukup leluasa atau cukup baik (65%). Tetapi ada 32% responden yang masih merasa kurang leluasa dalam menjalankan ibadah wajibnya. Secara garis besar, berarti keleluasaan beribadah masih belum baik atau sesuai yang diharapkan. Mungkin diperlukan suatu kebijakan atau regulasi khusus dari pemerintah agar mampu mempengaruhi perusahaan terkait aturan menjalankan ibadah bagi buruh di dalam pabrik pada umumnya.

survey trpip 5

Penyimpangan Sosial di Lingkungan Buruh

Berkaitan dengan populasi buruh perempuan yang terkonsentrasi atau tinggal di sekitar pabrik, banyak rumor yang beredar di tengah masyarakat bahwa telah terjadi banyak penyimpangan sosial di kalangan buruh perempuan. Bermula dari strategi penghemtan yang dilakukan oleh buruh, terutama dalam membagi rata sewa tempat tinggal atau kamar kost untuk berdua, bertiga atau bahkan berempat dalam satu kamar. Dengan tinggal bersama tersebut, maka biaya sewa dapat dibagi dengan orang lain sehingga mengurangi pengeluaran. Sehingga tidak heran ketika muncul rumor bahwa banyak hubungan sejenis (lesbian) yang berkembang di kalangan buruh perempuan. Melalui penelitian ini dimasukkan beberapa pertanyaan untuk mencari kebenaran rumor tersebut, meskipun kita juga tidak dapat menjamin kejujuran responden terhadap hal-hal sensitif terkait orientasi seksual. Namun setidaknya, data yang ada menunjukkan bahwa hanya sedikit yang pernah melihat secara langsung penyimpangan sosial tersebut (25%). Sebagian besar responden menyatakan hanya mendengar (42%) dan tidak melihat (30%). Meskipun hanya seperempat responden yang mengaku melihat langsung, bukan tidak mungkin di masa mendatang persentase ini akan terus meningkat jika tidak ada intervensi dan edukasi apa pun dalam lingkungan tempat tinggal buruh.

Selanjutnya >> Bagian 5

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *